Ponorogo — Pusat Studi Manuskrip (Pusman) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar melaksanakan kegiatan berburu manuskrip keilmuan Islam di wilayah Gontor, Kabupaten Ponorogo, pada [hari/tanggal]. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dan penguatan kajian manuskrip Islam Nusantara, khususnya dalam bidang gramatikal bahasa Arab (nahwu), tajwid, tauhid, dan fiqih.
Rombongan Pusman UNU Blitar terdiri atas dua dosen, Fuad Ngainul Yaqin dan Ananda Emiel Kamala , serta dua mahasiswa, M. Yusuf Mas Adi dan M. Ali Rohman. Kegiatan ini dirancang sebagai agenda akademik yang mengintegrasikan penelitian dosen dengan pembelajaran mahasiswa berbasis sumber primer.
Setibanya di lokasi, rombongan Pusman UNU Blitar disambut dengan hangat oleh Khoirul Fata, selaku pemilik dan perawat manuskrip-manuskrip klasik yang berada di kawasan Gontor. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai pertemuan tersebut. Selain memberikan akses kepada tim untuk menelaah dan mengidentifikasi manuskrip, Khoirul Fata juga menjamu rombongan dengan penuh keramahan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian warisan intelektual Islam.
Dalam proses penelusuran, tim Pusman UNU Blitar menemukan dan mengkaji sejumlah manuskrip penting yang mencakup kajian nahwu sebagai fondasi keilmuan bahasa Arab, tajwid sebagai ilmu pendukung pembacaan Al-Qur’an, serta kitab-kitab tauhid dan fiqih yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama dalam pendidikan Islam tradisional. Manuskrip-manuskrip tersebut dinilai memiliki nilai historis, filologis, dan akademik yang tinggi.
Fuad Ngainul Yaqin menyampaikan bahwa kegiatan berburu manuskrip ini menjadi langkah konkret Pusman UNU Blitar dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam. “Manuskrip merupakan saksi bisu perjalanan intelektual ulama terdahulu. Melalui kegiatan ini, kami berupaya mendokumentasikan dan mengkaji naskah-naskah tersebut agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ananda Emiel Kamala menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lapangan semacam ini. Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali pengalaman langsung dalam berinteraksi dengan manuskrip sebagai sumber utama kajian Islam. “Dengan terjun langsung ke lapangan, mahasiswa tidak hanya memahami teks, tetapi juga konteks sosial dan budaya dari manuskrip yang mereka pelajari,” jelasnya.
Partisipasi mahasiswa, M. Yusuf Mas Adi dan M. Ali Rohman, memberikan warna tersendiri dalam kegiatan ini. Keduanya menyatakan bahwa berburu manuskrip di Gontor, Ponorogo, menjadi pengalaman akademik yang sangat berharga dan membuka wawasan tentang kekayaan tradisi tulis Islam di tingkat lokal.
Melalui kegiatan berburu manuskrip ini, Pusman UNU Blitar berharap dapat memperkuat jejaring dengan para pemilik manuskrip dan komunitas pemerhati naskah klasik, sekaligus mendorong lahirnya penelitian lanjutan, digitalisasi manuskrip, serta publikasi ilmiah yang berkontribusi bagi pengembangan studi Islam berbasis manuskrip di Indonesia.
